Book Review
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia
DOI: https://doi.org/10.14421/ajis.1998.3662.196-200
Abstract
Pernyataan Brown di awal tulisannya bahwa yang dimaksud dengan "tradisi" di sini bukan merujuk pada "alur pemikiran masa kini", akan tetapi merujuk kepada konsep masa lampau, sesuatu yang mengandung pengetahuan atau kebenaran, dan dijaga (diriwayatkan) secara ketat di dalam masyarakat religius. Dalam perspektif Islam, "tradisii' yang demikian ini adalah apa-apa yang terkandung di dalam Sunnah Nabi Saw, dipelihara dan diriwayatkan secara baik di dalam komunitas Muslim (hal. l-2). Jadi yang dimaksud dengan "tradisi" oleh Brown di dalam karya ini, adalah nama lain dari Sunnah Nabi itu sendiri. Maka tajuk Rethinking the Sunna in Modem Islamic Thought di sini, menurut saya sama halnya dengan Rethinking The Sunna in Modem Islamic Thought. Hanya saja, kalau diamati secara jeli, sepertinya menggunaan term "tradisi" sebagai nama lain dari As-Sunnah di sini menjadi kurang tepat disebabkan inkonsistensi Brown sendiri. Aneka ragam kata "tradisi" yang mucul di dalam buku ini nampak sekali melahirkan beberapa ambiguitas pemaknaan atasnya. Terbukti dari fokus kajiannya ternyata tidak sekedar membicarakan tentang Sunnah, tetapi juga menampilkan wacana-wacana yang mendukung terciptanya pandangan konseptual yang 'lebih' dari sekedar 'tradisi' yang semula ia maksudkan. Contohnya, dalam beberapa kesempatan, 'tradisi' kepada kitab-kitab fikih abad pertengahan (hal. 26). Ada ia merujukkan juga kalimat "the classical tradition of tafsir" (hal.48), lalu secara tidak khusus ia juga menulis "Islamic intelectual tradition" (hal. 132). Yang paling 'parah', dia menulis "interpretative filters of both the sunna and the classical tradition" (hal. 133).
Full Text:
PDFCopyright (c) 2022 Sabrur Rahim Soenardi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.






